Thursday, 8 September 2016

Ibrahim bin Adham dengan Pemuda Berdosa


Suatu hari,Ibrahim bin Adham didatangi oleh seseorang yang sudah sekian lama hidup dalam kemaksiatan,sering mencuri,selalu menipu dan tidak pernah bosan berzina. Orang ini mengadu kepada Ibrahim bin Adham, "Wahai tuan guru,aku seorang yang banyak dosa yang rasanya tidak mungkin dapat keluar dari lembah maksiat. Tetapi,tolong ajari aku seandainya ada cara untuk menghentikan semua perbuatan tercela ini?"

Ibrahim bin Adham menjawab, "Kalau kamu boleh selalu berpegang pada lima hal ini,nescaya kamu akan dijauhkan daripada segala perbuatan dosa dan maksiat."

Pertama,jika kamu masih hendak berbuat dosa dan maksiat,maka usahakanlah agar Allah jangan sampai melihat perbuatanmu itu.

Orang itu terangkuh, "Bagaimana mungkin,Tuan Guru,bukankah Allah selalu melihat apa sahaja yang diperbuat oleh sesiapa pun? Allah pasti tahu walaupun perbuatan itudilakukan bersendirian,di dalam bilik yang gelap,bahkan di lubang semut pun."

"Wahai anak muda,kalau yang melihat perbuatan dosa dan maksiatmu itu ialah jiran tetanggamu,kawan dekatmu,atau orang yang kamu hormati,apakah kamu akan meneruskan perbuatanmu? Lalu mengapa terhadap Allah kamu tidak malu,sementara Dia melihat apa yang kamu perbuat?"

Orang itu lalu tertunduk dan berkata, "Katakanlah yang kedua,tuan guru!"

"Kedua,jika kamu masih hendak berbuat dosa dan maksiat,maka jangan sekali-kali kamu makan rezeki Allah."

Pemuda itu kembali terangkuh, "Bagaimana mungkin,tuan guru,bukankah semua rezeki yang ada di sekeliling manusia adalah daripada Allah semata-mata? Bahkan air liur yang ada di mulut dan tenggorokku adalah daripada Allah jua."

Ibrahim bin Adham menjawab, "Wahai anak muda,masih patutkah kita makan rezeki Allah sementara setiap saat kita melanggar perintahNya dan melakukan laranganNya? Kalau kamu tumpang makan kepada seseorang,sementara setiap saat kamu selalu mengecewakannya dan dia melihat perbuatanmu,masihkah kamu punya muka untuk terus makan makanannya?"

"Sekali-kali tidak! Katakanlah yang ketiga,tuan guru."

"Ketiga,kalau kamu masih hendak berbuat dosa dan maksiat,janganlah kamu tinggal lagi di bumi Allah."

Orang itu tersentak, "Bukankah semua tempat ini adalah milik Allah,tuan guru? Bahkan segenap planet,bintang dan langit adalah milikNya juga?"

Ibrahim bin Adham menjawab, "Kalau kamu bertamu ke rumah seseorang,tumpang makan semua miliknya,adakah kamu sudah cukup tebal muka untuk melecehkan peraturan-peraturan tuan rumah itu sementara dia selalu tahu dan melihat apa yang kamu lakukan?"

Orang itu kembali terdiam,air mata menitis perlahan dari kelopak matanya lalu berkata, "Katakanlah yang keempat,tuan guru."

"Keempat,jika kamu masih hendak berbuat dosa dan maksiat,dan suatu ketika malaikat maut datang untuk mencabut nyawamu sebelum kamu bertaubat,tolahlah ia dan janganlah biarkan nyawamu dicabut."

"Bagaimana mungkin,tuan guru? Bukankah tidak ada seorang pun yang mampu menolak datangnya malaikat maut?"

Ibrahim bin Adham menjawab, "Kalau kamu tahu begitu,mengapa masih jua berbuat dosa dan maksiat? Tidakkah terfikir olehmu,jika suatu ketika malaikat maut itu datang justeru ketika kamu sedang mencuri,berzina,menipu dan melakukan dosa lainnya?"

Air mata menitis semakin deras dari kelopak mata pemuda itu,kemudian ia berkata, "Wahai tuan guru,katakanlah yang kelima."

"Kelima,jika kamu masih hendak berbuat dosa,dan tiba-tiba malaikat maut mencabut nyawamu justeru ketika kamu sedang melakukan dosa,maka janganlah mahu kalau nanti malaikat Malik akan memasukkanmu ke dalam neraka. Mintalah kepadanya kesempatan hidup sekali lagi agar kamu dapat bertaubat dan menampal dosa-dosamu itu."

Pemuda itu pun berkata, "Bagaimana mungkin seseorang boleh meminta kesempatan hidup lagi,tuan guru? Bukankah hidup hanya sekali?"

Ibrahim bin Adham berkata, "Oleh sebab hidup hanya sekali anak muda,dan kita tidak pernah tahu bila maut akan menjemput kita,sementara semua yang telah diperbuat pasti akan kita pertanggungjawabkan di akhirat kelak,apakah kita masih akan mensia-siakan hidup ini hanya untuk menumpuk dosa dan maksiat?"

Pemuda itu pun langsung pucat,dan dengan suara parau menahan ledakan tangis ia mengiba, "Cukup tuan guru,aku tidak sanggup lagi mendengarnya."

Lalu ia pun beranjak pergi meninggalkan Ibrahim bin Adham. Dan sejak saat itu,orang ramai yang mengenalinya sebagai seorang ahli ibadah yang jauh daripada perbuatan tercela.

p/s : Semoga kisah ini menjadi renungan bagi kita bersama dalam menapaki setiap langkah kita selagi hidup di dunia.


No comments:

Post a Comment